Webcam Tattoo Bright Eyes Easy Lucky Free

Whattocoooktoday

The Best Authentic Gado-Gado Indonesia (source: whattocooktoday)

T erinspirasi dari buku karya Michelle Obama berjudul American Grown: The Story of White House Kitchen Garden and Gardens across America, tulisan ini menceritakan fenomena kelangkaan pasokan makanan sehat, buah dan sayuran segar, dan menjamurnya restoran cepat saji di daerah-daerah permukiman di kota-kota tertentu di Amerika Serikat. Merespons hal ini, Indonesia yang sedang memetakan arah kebijakan penguatan branding kuliner atau strategi gastrodiplomasi perlu melihat berbagai sudut pandang untuk memperkuat strategi tersebut. Kajian tentang kerawanan pangan yang terjadi di Amerika Serikat ini mungkin dapat menjadi salah satu pertimbangan.

Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), food deserts didefinisikan sebagai daerah atau lingkungan permukiman di mana paling tidak 500 orang atau 33% dari populasi tinggal lebih dari 1mil (1.61 km) dari daerah perkotaan atau lebih dari 10mil (16.1 km) dari pasar di daerah perdesaan (USDA dikutip oleh Bornstein, 2016) dan secara spesifik digambarkan sebagai daerah tanpa swalayan (jika ada jaraknya cukup jauh) dan akses terbatas terhadap makanan sehat (Ver Ploeg, et.al., 2009; Walker, Keane & Burke, 2010; Bornstein, 2016). Dengan nada yang berbeda, terma food swamps digunakan untuk menggambarkan daerah dengan tingginya jumlah restoran cepat saji dan junk food, toko-toko yang menjual makanan kemasan dengan kalori tinggi, minuman bersoda, dan minuman dengan tinggi gula lainnya dibandingkan toko dengan pilihan makanan lebih sehat (Rose, et. al., 2009; Fielding, 2011; Cooksey-Stowers, Schwartz, & Brownell, 2017). Namun, kesamaan klasifikasi keduanya terletak pada aspek sosial ekonomi di mana food deserts dan food swamps identik sebagai daerah dengan pendapatan rendah dan tempat berkumpulnya etnis minoritas (non-White) (Block, Scribner, & DeSalvo, 2004; Babey, et.al., 2008; Glickman, 2012; Hilmers, Hilmers, & Dave, 2012).

Diskursus terkait apakah daerah food swamps hanyalah istilah lain dari food deserts masih diperbincangkan oleh para akademisi, jurnalis politik, dan pemerhati kesehatan. Fielding (2011), misalnya, mendefinisikan food desert justru sama dengan kondisi daerah yang dikategorikan sebagai food swamps, daerah dengan banyaknya restoran cepat saji. Didukung oleh Borstein (2016), dirinya mengklasifikasikan food swamps secara paradoks sebagai bagian dari food deserts dengan alasan inti permasalahan yang sama, yaitu kelangkaan ketersediaan dan sulitnya akses makanan sehat. Sementara Cooksey-Stowers, Schwartz, & Brownell (2017), menyimpulkan bahwa food swamps dan food deserts adalah dua kondisi daerah yang berbeda dan dengan dampak terhadap masyarakat yang berbeda pula.

Pengklasifikasian daerah-daerah tersebut bukan tanpa alasan. Ada dua hal yang menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat terhadap daerah permukiman yang digolongkan food deserts dan food swamps: kerawanan pangan dan tingkat obesitas yang semakin tinggi.  Keduanya akan mengancam kesehatan masyarakat jika tidak ditangani dengan segera. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (2009), negeri ini mengalami pandemi obesitas dengan 35% orang dewasa di Amerika Serikat mengidap obesitas. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat ini kemudian menjadi perhatian dari kebijakan Amerika Serikat sejak masa pemerintahan Barack Obama dengan program Healthy Food Financing Initiative (HFFI) di tahun 2010 di bawah payung kampanye yang dilakukan oleh ibu negara saat itu, Michelle Obama, dalam Let's Move Campaign. Kebijakan ini menginvestasikan ratusan juta dolar untuk meningkatkan akses untuk makanan sehat di daerah yang dikategorikan sebagai food deserts (Couzin-Frankel, 2012). Adopsi kebijakan HFFI ke tingkat pemerintahan federal ini sesungguhnya terinspirasi dari apa yang telah dilakukan oleh negara bagian Pennsylvania dengan program Fresh Food Financing Initiatives (FFFI) yang membiayai hampir 90 proyek untuk menarik dan meningkatkan kualitas retail makanan sehat dan segar dengan memberikan dukungan berupa pengembangan, renovasi, dan ekspansi (Food Trust, 2021). Semangat mengampanyekan makanan sehat dan bahan-bahan makanan bernutrisi tercermin dalam langkah kecil yang diambil oleh ibu negara dengan membuka lahan di Gedung Putih sejak tahun 2009 untuk bercocok tanam buah dan sayuran segar yang hasil produksinya digunakan sebagai bahan dasar makanan untuk seluruh penghuni Gedung Putih dan sebagian diberikan pada pusat tuna wisma (Obama, 2012).

Kini, masalah food deserts dan food swamps masih ditemui dengan tantangan baru di tengah pandemi Covid-19. Kesulitan-kesulitan dialami oleh warga yang tinggal di area food deserts dalam mengakses makanan bernutrisi dan bahan makanan segar karena restriksi mobilitas saat pandemi. Saat ini, pemerintah Amerika Serikat sedang dalam proses mengusulkan dan memproses legislasi rancangan undang-undang The Healthy Food Access for All Americans (HFAAA) yang bertujuan untuk memperluas akses makanan sehat dan bernutrisi dengan harga terjangkau di daerah-daerah yang dikategorikan sebagai food deserts oleh USDA. Rancangan undang-undang ini mendesain sistem kredit pajak dan hibah untuk aktivitas yang menyediakan akses makanan sehat di food deserts baik di perkotaan maupun pedesaan (Congress, 2021; McEachin, 2021; Warner, 2021). Dengan adanya rancangan undang-undang baru dan diskusi yang terus berjalan, perhatian terhadap permasalahan kerawanan pangan di Amerika Serikat masih belum berhenti. Dengan kata lain, kerawangan pangan akibat sulitnya akses makanan sehat, segar, dan bernutrisi masih menjadi tantangan tersendiri di Amerika Serikat.

Merespons fenomena food deserts dan food swamps di Amerika Serikat tersebut, pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan hal ini dalam strategi gastrodiplomasi yang disusun. Meskipun gastrodiplomasi bertujuan untuk memenangkan hati dan pikiran serta memperkuat branding suatu negara (Rockower, 2012; 2020) yang sepenuhnya adalah kepentingan negara asal, pemerintah dapat melihat sudut pandang lain dengan memanfaatkan peluang yang ada sekaligus menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada di negara target gastrodiplomasi. Indonesia sendiri telah memiliki fokus untuk memperkuat branding dengan memperkenalkan kuliner khas Nusantara di luar negeri sejak beberapa dekade terakhir. Salah satunya dengan Co-branding Wonderful Indonesia Program yang pernah dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar, sekarang Kemenparekraf) di tahun 2018 dengan salah satu rencananya adalah dukungan dan penguatan pada restoran-restoran Indonesia di luar negeri (Trihartono, et.al., 2020). Selain itu, pemerintah Indonesia juga telah menetapkan lima makanan prioritas yang patut diperkenalkan di kancah internasional, yaitu: Gado-gado, Soto, Rendang, Sate, dan Nasi Goreng. Belakangan ini, pemerintah Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) mencanangkan program "Indonesia Spice Up the World" yang melibatkan lintas kementerian/lembaga sebagai salah satu upaya perluasan pemasaran produk bumbu atau pangan olahan dan rempah Indonesia serta menguatkan industri kuliner dengan pengembangan restoran Indonesia di luar negeri atau sebagai bentuk strategi gastrodiplomasi restoran (Kemenparekraf, 2021).  Salah satu target dari program ini sampai tahun 2024 adalah hadirnya 4.000 restoran Indonesia di luar negeri dengan Amerika Serikat, khususnya New York, sebagai salah satu tujuan utama.

Apa yang telah dirancang oleh pemerintah Indonesia dalam strategi gastrodiplomasinya dapat menjadi peluang untuk kehadiran restoran-restoran Indonesia tidak hanya di New York, tetapi di daerah-daerah lain yang potensial, seperti di kota-kota dalam kategori food deserts dan food swamps. Kota Baltimore di Maryland, misalnya, masih terdapat daerah pemukiman, khususnya di bagian utara, yang tergolong food deserts. Pemerintah kota setempat kini mengembangkan kebijakan pangan "Baltimore City Food Environment Map" guna mengatasi food deserts. Alih-alih daerah ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan restoran Indonesia dan memperkenalkan kuliner dengan pilihan menu utama yang disesuaikan dengan kondisi setempat seperti Gado-gado, Indonesia juga dapat sedikitnya berkontribusi memberikan dukungan terhadap kebijakan pangan tersebut.Gado-gado sebagai salah satu prioritas promosi kuliner Indonesia di kancah Internasional dapat menjadi menu makanan yang menawarkan akses terhadap makanan sehat dengan bahan-bahan baku sayuran segar yang kaya akan vitamin dan serat serta bumbu kacang yang kaya protein. Selain itu, daerah-daerah food deserts dan food swamps seperti Los Angeles bagian timur, Mississipi bagian barat, dan Alaska juga dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan restoran. Dengan menjadi bagian dari solusi dan memberikan dukungan untuk penekanan food deserts dan food swamps di kota-kota Amerika Serikat, harapannya, penguatan branding kuliner Indonesia dapat lebih berkelanjutan dan memenangkan hati para warga asing dengan ciri khas makanan yang sehat. Selain itu, hubungan bilateral dengan kota-kota dapat lebih meningkat dan membuka peluang pengembangan gastrodiplomasi melalui praktik paradiplomasi di mana tidak hanya negara yang berupaya untuk mempromosikan kuliner Indonesia, tetapi juga kota-kota melalui pemerintah daerah dapat bekerja sama dalam memperkuat branding kuliner Indonesia di luar negeri.

Referensi:

Babey, S.H., et. al. (2008). Designed for Disease: the link between local food environments and obesity and diabetes. Los Angeles, CA, Amerika Serikat: UCLA Center for Health Policy Research.

Block, J.P., Scribner, R.A., DeSalvo, K.B. (2004). 'Fast food, race/ethnicity, and income: a geographic analysis'. American Journal of Preventive Medicine 27 (3), 211-217.

Bornstein, Q. (2016). 'Why it takes more than a whole foods to fix a food desert'. Brown Political Review.  diakses pada 10 Oktober 2021.

Centers for Disease Control and Prevention. (2009). Behavioral Risk Factor Surveillance System Survey Data. Atlanta, GA, Amerika Serikat: U.S. Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention.

Congress.Gov (2021). 'Healthy food access for all American Act'.  diakses pada 10 Oktober 2021.

Cooksey-Stowers, K., Schwartz, M. B., & Brownell, K. D. (2017). 'Food swamps predict obesity rates better than food deserts in the United States'. International Journal of Environmental Research and Public Health14, 1-20.

Couzin-Frankel, J. (2012). 'Tackling America's eating habits, one store at a time.' Science 337, 1473–1475.

Fielding, J. E. (2011). 'Food Deserts or Food Swamps?.' Archives of Internal Medicine, 171 (13), 1171–1172.doi:10.1001/archinternmed.2011.279

Food Trust. (2021). 'Pennsylvania fresh food financing initiative eligibility criteria'.  diakses pada 9 Oktober 2021.

Glickman, D. (2012). Accelerating Progress in Obesity Prevention: Solving the Weight of the Nation. Washington, DC, USA: National Academies Press.

Hilmers A, Hilmers D.C., & Dave, J. (2012). 'Neighborhood disparities in access to healthy foods and their effects on environmental justice'. American Journal of Public Health102 (9), 1644–1654.

Kemenparekraf. (2021, Juli 19). 'Siaran Pers: 'Indonesia Spice Up the World' tingkatkan peluang Indonesia di industri kuliner dunia'.  diakses 9 Oktober 2021.

McEachin. (2021, Februari 24). 'McEachin, Ryan introduce legislation to eradicate food deserts'.  diakses pada 9 Oktober 2021.

Obama, M. (2012). American Grown: The story of the White House kitchen garden and gardens across America. New York, NY, Amerika Serikat: Crown Publishers.

Rockower, P. S. (2012). 'Recipes for gastrodiplomacy'. Place Branding and Public Diplomacy8(3), 235–246.

Rockower, P. S. (2020). A guide to gastrodiplomacy. In Snow, Nancy & Cull, Nicholas J. Routldege Handbook of Public Diplomacy. New York, NY, Amerika Serikat: Routledge, 205-212.

Rose, D., et. al. (2009). Deserts in New Orleans? Ilustrations of urban food access and implications for policy. USDA Ann Arbor, MI, Amerika Serikat: Economic Research Service Research.

Trihartono, A. et. al. (2020). 'The early stage of Indonesia's gastrodiplomacy: in the middle of nowhere?'. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science

Ver Ploeg, M., et.al. (2009). Access to affordable and nutritious food: measuring and understanding food deserts and their consequences. Washington DC, Amerika Serikat: United States Department of Agriculture Economic Research Service.

Walker, R., Keane, C., & Burke, J. (2010). 'Disparities and access to healthy food in the United States: A review of food deserts literature'. Health Place 16, 876-884.

Warner. (2021, Februari 3). 'Warner introduces bipartisan bill to increase access to nutritious foods, help eliminate food deserts'.  diakses pada 9 Oktober 2021.

adamsneschis1979.blogspot.com

Source: https://prw.brin.go.id/merespons-food-deserts-dan-food-swamps-di-amerika-serikat-peluang-gado-gado-untuk-gastrodiplomasi-indonesia/

0 Response to "Webcam Tattoo Bright Eyes Easy Lucky Free"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel